Laporan Kegiatan Studi Banding Luar Kota 2015

Studi Banding Luar Kota 2015

 

            Studi Banding Luar Kota adalah salah satu program kerja divisi Networking Pena Bangsa, di mana Pena Bangsa mengunjungi organisasi social pendidikan sejenis Pena Bangsa lainnya di luar kota Bandung untuk saling berbagi ilmu. Studi banding luar kota kali ini diadakan tanggal 28 Juli – 1 Agustus 2015 di kota pelajar, Jogjakarta. Terdapat banyak organisasi social pendidikan yang ada di kota ini, termasuk 5 organisasi yang kami kunjungi yaitu Komunitas Jendela Jogjakarta, Project Child Indonesia, Gadjah Mada Menginspirasi, Save Street Child Jogjakarta, dan Komunitas Ilmu Berbagi Jogjakarta.

      Perjalanan kami diawali pada hari Senin sore, tanggal 28 Juli 2015, di kampus Unpad Dipatiukur. Kami berkumpul untuk memulai perjalanan menuju Stasiun Kiaracondong ke Jogjakarta. Setelah sampai di stasiun, tepat pukul 20.00 kereta Kahuripan yang kami tumpangi berangkat meninggalkan Stasiun Kiaracondong menuju Jogjakarta.

            Keesokan harinya pada tanggal 29 Juli 2015, kami tiba di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Pada hari pertama di Jogjakarta, kami mengunjungi 2 organisasi social pendidikan yaitu Komunitas Jendela Jogjakarta dan Project Child Indonesia. Setelah istirahat sebentar, kami bersiap-siap menemui komunitas pertama yaitu Komunitas Jendela. Pertemuan kami diadakan di Benteng Vredeburg pukul 11.00.

            Berawal dari kepedulian mahasiswa terhadap anak-anak korban letusan Gunung Merapi pada tahun 2010, Komunitas Jendela dibentuk di Jogjakarta dengan tujuan agar anak-anak tersebut tetap bersemangat untuk belajar walaupun tengah menghadapi keadaan yang sulit. Komunitas Jendela sendiri memiliki beberapa desa binaan pada waktu itu, yang pertama di Shelter Merapi, yang kedua di UIN, dan yang ketiga di Desa Tugo. Kini Komunitas Jendela sedang berencana untuk menambah desa bimbingan lain dan mengadakan mobile library di bawah jembatan Lempuyangan untuk melakukan pendekatan dengan anak-anak yang tertarik dengan buku. Di Indonesia, komunitas ini sudah tersebar di beberapa kota yaitu di Jogja sebagai yang pertama, Bandung, Malang, Jakarta, dan Lampung. Dalam Komunitas Jendela terdapat beberapa divisi yaitu Kerjasama, yang bertugas membangun relasi dengan pihak-pihak lain, Program yang mengatur berbagai acara serta kegiatan anak-anak, Media yang mengurus publikasi Komunitas Jendela, serta Relawan yang mengatur rekruitmen pengajar. Setiap desa binaan mendapat beberapa pengajar dari Komunitas Jendela sesuai dengan kondisi dan kebutuhan desa, lalu dilakukan pula sistem rolling. Berbagai kegiatang yang akan dilakukan sudah ditentukan oleh divisi Program, termasuk kegiatan mengajar. Tujuan yang ingin dicapai dari masing-masing desa berbeda satu dengan yang lain, sesuai apa yang dibutuhkan oleh desa tersebut. Namun tujuan utama Komunitas Jendela adalah ketika anak-anak mau membaca dan merawat buku tanpa adanya paksaan. Hal ini telah tercapai di Merapi, yaitu dengan didirikannya perpustakaan yang dirawat oleh warganya. Komunitas Jendela menarik anak-anak untuk bergabung dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu ke RT/RW dan orang tua di desa bimbingan, lalu dilakukan pendekatan kepada anak-anak. Anak-anak yang tergabung di Komunitas Jendela yaitu anak-anak dari kelas 6 SD hingga SMP bebas untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan, tidak terikat perjanjian tertentu. Pendanaan utama Komunitas Jendela berasal dari donatur, namun ada juga dana dari sponsorship saat Komunitas Jendela mengadakan acara tertentu. Terkadang komunitas ini juga melakukan garage sale. Dana yang diterima dialokasikan untuk melakukan kegiatan rutin bagi anak-anak.

            Setelah selesai menemui Komunitas Jendela, kami melanjutkan perjalanan menuju komunitas kedua yang terletak di Sungai Kricak yaitu Project Child Indonesia.

            Project Child Indonesia berbasis masyarakat LSM, bekerja untuk mengurangi kemiskinan di masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan sungai. “Sekolah Pantai” (di Pacitan) dan “Sekolah Sungai”(di Sungai Kricak) fokus pada pengajaran anak-anak tentang kesehatan dan lingkungan. Project Child Indonesia mempromosikan dan memberdayakan relawan Indonesia dan internasional untuk memastikan perbaikan yang berkelanjutan dari kondisi kehidupan anak – anak dan masyarakat luas. Organisasi ini didirikan pada keyakinan bahwa setiap individu dapat membantu orang lain dengan cara mereka sendiri. Project Child Indonesia didorong oleh kejujuran, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat. Komunitas ini sudah berumur 4 tahun dan sangat mendukung hobi serta cita-cita anak-anak. Awalnya hanya berbentuk komunitas biasa, kini Project Child Indonesia dilanjutkan dengan struktur yang lebih rapih dan bekerjasama dengan warganegara asing. Komunitas ini banyak bergerak di wilayah sungai serta pantai karena kemiskinan di Indonesia pada umumnya berasal dari sana, sebab sungai dan pantai tidak dapat diambil hak kepemilikannya oleh warga serta rawan terhadap bencana alam. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain membantu orang tua untuk melanjutkan usaha demi anak-anak dengan melakukan kerjasama dengan komunitas lain, mengajarkan bahasa asing terutama bahasa Inggris dengan bantuan pendatang-pendatang asing, membuat Pilot Project yang dinamakan “Zero Rupiah Project” yaitu kegiatan untuk membantu anak-anak tanpa menggunakan uang tetapi dengan bekerjasama dengan pihak-pihak lain (mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatan anak-anak dengan mengundang dokter dari universitas tertentu), serta melakukan Totality Program, yaitu membiayai pendidikan anak-anak secara penuh. Dalam kegiatan belajar mengajar sendiri Project Child Indonesia memiliki silabus yang diverifikasi oleh social workers dari universitas di Jerman dan Belanda.

            Di hari kedua yaitu tanggal 29 Juli 2015, kami mengunjungi 3 komunitas lainnya yaitu Gadjah Mada Menginspirasi, Save Street Children Jogjakarta, dan Komunitas Ilmu Berbagi Jogjakarta.

           
Gadjah Mada Menginspirasi dibentuk pada 30 Oktober 2013, awalnya merupakan bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa yang bertujuan menginspirasi anak – anak agar mau berusaha dengan lebih baik untuk menggapai cita-citanya. Komunitas ini aktif mengajar di sekitar Merapi dan Prambanan. Beberapa program yang dilakukan komuntias ini yaitu kelas edukasi, di mana dilakukan pengajaran kepada adik asuh untuk membantu mengerjakan tugas-tugas, kelas peran yaitu memberikan informasi tentang profesi dan mereka berperan dalam profesi tersebut, kelas berbagi yaitu kegiatan untuk mengasah soft skill seperti public speaking dan organisasi, serta kelas menginspirasi yaitu pembinaan kepada adik asuh. Selain kegiatan bagi adik asuh, Gadjah Mada Menginspirasi juga melakukan kegiatan bagi pengajarnya, salah satunya Diary pengajar Gadjah Mada, yaitu evaluasi mengajar terhadap adik-adik asuh. Pengajar dalam komunitas ini terdiri dari pengajar tetap dan tidak tetap (relawan).

Save Street Children Jogjakarta atau yang dikenal dengan SSC Jogja adalah sebuah komunitas yang peduli terhadap isu atau permasalahan anak jalanan di Kota Jogjakarta. Berawal dari gerakan twitter yang dipelopori oleh SSC Jakarta, SSC Jogja menjadi sebuah gerakan nyata pada tanggal 7 Agustus 2011. Komunitas ini memiliki dua kelas di Monumen Jogja Kembali dan Shelter di Jalan Suryamantraman yang rutin diadakan setiap hari Selasa pukul 4 sore serta hari Kamis pukul 2 siang. Kelas khusus juga diadakan pada hari Rabu di Malioboro. Berbeda dengan SSC yang ada di kota-kota lain di Indonesia, SSC Jogja lebih fokus ke pengetahuan sosial, kegiatan edukasinya ditekankan pada norma-norma sosial. Saat ini volunteer yang aktif di SSC Jogja sebanyak 35 orang.

Ilmu Berbagi adalah organisasi non-profit berbasis komunitas dengan program berbagi dan pelayanan berkelanjutan di bidang sosial pendidikan dan peradaban masyarakat Indonesia. Terdapat 4 pilar komitmen dasar Komunitas Ilmu Berbagi yakni berbagi untuk pengembangan “Karakter, Pengetahuan, Keahlian, dan Kemandirian“ yang dijabarkan lebih lanjut dalam visi, misi, dan target capaian organisasi. Kegiatan yang telah dilaksanakan selama ini meliputi 4 divisi, yaitu Beastudi, Pelatihan Gratis, IB Goes to School, dan Taman Baca.

Program beastudi diberikan kepada adik-adik yang duduk di bangku SMA sederajat yang berasal dari keluarga tidak mampu/dhuafa namun memilik prestasi bagus di sekolah. Saat ini Ilmu Berbagi Jogja memiliki tiga adik binaan yang mendapat beastudi. Dua adik binaan berasal dari Pracimantoro, Jateng dan satu adik binaan berasal dari Sragen, Jateng.

Kegiatan Pelatihan Gratis dilaksanakan di sebuah panti asuhan di daerah Sleman, Yogyakarta. Pelatihan gratis ini mengajak siapa saja yang ingin berbagi kepada adik-adik di panti dengan kemampuan masing-masing yang dimiliki. Bisa berupa ilmu, materi, hiburan, dsb sesuai dengan yang dimiliki kakak-kakak yang ingin berbagi. Selama ini telah melakukan pelatihan komputer, belajar bersama untuk persiapan UN, menonton film edukasi, wisata edukasi ke tempat sejarah, dll. Dan ini bersifat gratis, tanpa dipungut biaya.

Program IB Goes to School bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan kegiatan di sana. Untuk saat ini bekerja sama dengan MA Darussalam di daerah Maguwo, Sleman. Kegiatan yang diadakan di dalamnya yaitu pelatihan komputer dan persiapan UN.

Kegiatan Taman Baca sejauh ini masih melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk membantu taman baca yang ada di Indonesia. Belum lama ini bekerja sama dengan kakak KKN UGM yang menginisiasi pembuatan taman baca di Ilaga, Papua. Selanjutnya dalam waktu dekat juga akan membantu taman baca di Maluku. Penggalangan donasi dilakukan untuk membantu taman-taman baca tersebut.

Itulah 5 organisasi social pendidikan yang kami kunjungi dalam rangka Studi Banding Luar Kota 2015 di kota Jogjakarta. Meskipun kegiatan yang dilakukan masing-masing organisasi berbeda – beda, organisasi social pendidikan ini memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan kualitas pendidikan anak di Indonesia.  Semoga kegiatan studi banding ini dapat member manfaat yang dapat diterapkan masing – masing organisasi kedepannya.

 

 

Speak Your Mind

*